.footer-outer .widget h2 { color: #ffffff; text-align: center; background: #000000; border: 1px solid #ffffff; border-radius: 5px; padding: 5px; margin: 0px; } .foot.section .widget-content { color: #000000; text-align: center; background: #ffffff; border: 1px solid #000000; border-radius: 5px; padding: 5px; margin: 0px; height: 150px; overflow: auto; } .foot.section .widget.Attribution .widget-content { padding: 0px; margin: 0px; height: auto; border: none; background: inherit; } Sumber: http://eltelu.blogspot.com/2012/08/cara-membuat-bingkai-untuk-widget-yang.html#ixzz2QM5eX2mz

Minggu, 11 September 2011

KEKECEWAAN PIHAK PANITIA TURNAMEN BADMINTON LAMAHALA CUP I - 2011 KEPADA BUPATI DAN WAKIL BUPATI FLORES TIMUR

Turnamen Badminton Lamahala Cup I - 2011 telah resmi di buka yang sedianya dibuka oleh Bupati Flores Timur tetapi dengan alasan kedatangan tamu secara mendadak dari depertemen kelautan maka bupti dan wakil bupati harus menemani pihak depertemen...hal ini sangat mengecewakan pihak panitia yang sudah menyiapkan penyambutan yang cukup mewah. dengan beberapa alasan yaitu sedianya pembukaan seharusnya d laksanakan pada malam hari, tetapi atas permintaan bapak bupati Flotim untuk menghadiri acara pembukaan maka digeser ke sore hari. tetapi malah bupati sendiri yang membatalkan agenda yang telah ditentukan bapak bupati, yang herannya apakah tamu dari pihak departemen sebelum hari h minimal 1 minggu atau 3 hari sebelumnya sudah ada surat pemberitahuan dari pihak departemen ke pemerintah kabupaten flores timur mengenai kedatangan pihak departemen, pada hal 2 hari sebeluh hari h pembukaan pihak pak bupati sendiri yang meminta untuk memajukan acara pembukaan. kadang- kadang masyarakat lamahala mempertanyakan bupati kenapa sampai tidak datang pada acara pembukaan, pada hal mau dibilang suara terbesar untuk memenangkan PAKET SONATA (BUPATI DAN WAKIL BUPATI SEKARANG) adalah desa lamahala untuk tingkat kabupaten flores timur dengan jumlah pemilih lebih dari 3000 suara. juga hal yang tidak kalah pentingnya, bapak bupati flores timur dan wakil bupati flores timur telah menang tapi belum dilantik, menyempatkan waktunya untuk hadir dalam acara pernikahan yang diselenggarakan di lamahala tetapi turnamen yang begitu besar tidak dapat dihadiri oleh bupati dan wakil bupati apalagi wakil bupati adalah ketua persatuan bulutangkis seluruh indonesia untuk flores timur. SANGAT MENGECEWAKAN!!!

YUBILARIS YANG TAK LARIS-LARIS


Judul yang agak sinis, tetapi setidaknya ada di kepala sebagian orang yang ada dalam barisan upacara beberapa waktu lalu. Memang tidak semua orang melewati tahap wisuda ini dengan cukup senang karena hasil panen nilai transkripnya tidak cukup bikin angkat muka. Beda dengan barisan lulusan ‘dengan pujian’ yang patut dapat aplaus di depan sana.
Laris? Artinya terjual. Kalau bukan barang, ya pengetahuannya. Telah banyak modal memang telah dialirkan untuk 1250 orang yang di wisuda hari itu. Telah lebih dari ratusan bahkan ribuan jam kerja dihabiskan untuk mereka, ketika mereka masih mahasiswa. Apalagi di barisan Sarjana Teknik yang rata-rata wisuda jelang batas masa studi, semester empat belas. (Penulis sendiri sampai semester dua belas, setahun sebelum lampu merah!)

Dari sudut pandang produksi, hasil ini tentu diharapkan dapat berfungsi banyak sepadan dengan pengorbanan yang telah dikerahkan. Tetapi mereka bukan barang. Mereka manusia yang ada segi rohani di samping wujud materi mereka.
Dari sisi materi, dengan jumlah sebanyak lebih dari seribu sekali pelantikan itu, apakah mereka cukup laris di pasar ide maupun karya dalam menjawab seribu satu soal yang selalu disebut-sebut itu? Tujuannya memang begitu, meski bukan satu satunya. Mereka diharapkan untuk ikut andil sesuai kemampuan mereka yang tentu saja tidak dianggap sepele.
Nah, kalau boleh nimbrung, hasil seperti apa yang diharapkan muncul nanti. Lumayan subyektif kalau saya yang pelaku angkat bicara. Anggap saja ini sisi yang tidak biasa, tetapi boleh disimak.
Jujur, sejauh yang saya tahu, tidak semua solusi revolusioner lahir dari proses seperti ini: Sarjana. Wright bersaudara temukan mesin terbangnya tanpa perlu proses di ruang ujian Fakultas atau jurusan. Di kerajaan Inggris pun hanya pangeran Wiliam lah yang memegang gelar sarjana. Tetapi kemajuan mereka memang bukan karena prestise-prestise seperti itu.
Banyak yang menyebut bahwa gelar sarjana seperti sebuah feodalisme baru, tapi kalau ditilik lebih jauh ternyata gelar itu jauh dari mengesankan. Itu hanya sejauh prasyarat dalam mencari kerja. Jauh berbeda dengan yang diharapkan, bahwa mereka ini bisa ciptakan semangat wirausaha seperti yang selalu dikatakan oleh pak Rektor maupun pak Gubernur, yang sama-sama hadir pada acara wisuda kemarin.
Kembali ke pertanyaan tadi tentang seperti apakah hasil lulusan kita. Apakah orang yang sehari-harinya banyak terjun di dunia organisasi kemasyarakatan boleh dikatakan gagal? Kita catat banyak kali mereka tinggalkan meja kuliah karena berjuang tentang apa yang menurutnya penting. Mereka gelar diskusi-diskusi yang kalau ditaksir setara dengan ratusan SKS, kadang tak pernah berlangsung tanpa tekanan dan hipokrisasi di meja akademis.
Mereka belajar tanamkan kepedulian terhadap masyarakat yang kini mati di kampus-kampus akibat normalisasi kampus beberapa tahun lalu. Mereka datangkan pembicara pembicara wirausaha untuk bagikan pengalaman kepada adik-adik mereka dalam kegiatan pembinaan rutin. Mereka siapkan pemimpin yang akan siap tangani kegiatan di kampus-kampus, terlebih kegiatan ekstra kurikuler. Mereka adakan kegiatan usaha seperti penerbitan pers lewat lembaga lembaga penerbitan pers sebagai wadah latihan. Mereka menanamkan kepercayaan di antara mereka sebagai dasar kerjasama di jaman yang mahal kepercayaan ini. Tetapi apakah orang orang ini gagal? Masyarakat dewasa ini butuh orang-orang seperti mereka, itu pasti.
Beberapa saat lalu datang seorang peneliti di kampus. Ia bercerita bahwa di kampusnya, Pascasarjana di Prancis, mata kuliah tidak sekhusus yang kita punya. Mahasiswa diberi kebebasan untuk mengambil mata kuliah yang ingin ia ambil. Di Indonesia, kebebasan seperti itu belum terasa. Kita hanya bebas memilih satu jurusan untuk kemudian terpenjara di situ akan belenggu SKS yang sudah mati dipaketkan. Kata si peneliti Prancis tesebut, di kampus mereka boleh saja mengambil mata kuliah Humaniora atau lainnya di luar mata kuliah khusus untuk faknya, yaitu Teknik Mesin.
Di tempat kita, semua seperti disempitkan di penjurusan, meski ada kemampuan lain yang disyaratkan perlu. Kewirausahaan, Budaya, Humaniora, dan sejumlah hal lain yang bisa menjadi pembentuk sikap mereka di masyarakat nantinya.
Tetapi mereka ternyata hanya dibatasi dengan satu cap gelar yang sama. Orang yang masuk ke sini mungkin saja bisa jadi usahawan handal yang lain mungkin ingin meneruskan usaha orang tuanya. Yang lain mungkin hanya sekadar numpang untuk mencari sedikit ilmu di samping kemampuan lain yang sebaiknya lebih di bina bakat seni dan olahraga. Tetapi mereka keluar dengan satu cap seolah olah hanya satu cap itulah patokan sukses mereka.
Tentang prestise, sebenarnya hampir tak terasa. Dulu ketika masih aktif-aktifnya ikut kegiatan kelompok pemuda, saya cukup merasakan bahwa prestise dari gelar tidak cukup membanggakan. Dalam sebuah kegiatan diskusi, ada seorang senior yang juga hadir. Ia, pemegang gelar master dan waktu itu sedang selesaikan doktoralnya di Kerajaan Malaysia. Studinya dijalani dengan jasa baik dari Yayasan Soros.
Bagaimana penampilannya ketika ia tiba? Dengan meneteng satu kantung gorengan, dia datang di ruangan sempit dari dinding bebak, itu sementara kami semua yang menunggunya lesehan di dalam ruangan. Itu tempat diskusi kami.
Sebelum memulai diskusi, Ia tuturkan bahwa ia juga pelajar, jadi sama saja seperti kami. Meski sebagai mahasiwa senior, sedang proses doktoralnya, ia mengatakan bahwa studinya berjalan sama saja seperti kami mahasiswa yunoir ini. Mereka mahasiwa juga.
Diskusi berjalan dengan baik dan meninggalkan kesan bahwa mereka ternyata bukan apa-apa sejauh tidak memberikan solusi terhadap soal hidup orang banyak dengan ke-cendekiawan-an mereka.

Saya ketik ini di Hand Phone dengan fasilitas auto predict dua hari setelah wisuda Undana September 2010 lalu, ketika sedang resah-resahnya menimbang soal laris-larisan ini.